
“dina’s poems, which arise from behind the palisades of sadness, with such strange grace cause trembles in the bottom of the readers’ heart.”
“puisi-puisi dina, yang lahir dari balik pagar kesedihan, dengan keanggunan yang aneh menimbulkan getar di dada pembacanya.”
–shinta febriany, editor (poet and playwright)
dina takes the reader poignantly deep inside her young heart—about a life since early childhood wrought with damage, bereavement, suffering, desolation, rejection and the pains and delights of love. editing this work was a privilege and a pleasure, a challenge too because of the constraints imposed upon me by dina who is totally focused on her work.”
–philip hatch-barnwell, editor (interpreter)
“one serious problem about many indonesian poets is that they can’t write poems that can be properly appreciated and enjoyed when they’re translated into foreign languages. it is a fatality that indonesian poems can’t speak loudly in the international world. it is true that a good poem is not determined by the language it’s wearing. dina’s poems in this book have proven that.”
“persoalan sangat serius kebanyakan penyair indonesia adalah tidak bisa menciptakan puisi yang bisa dinikmati dalam bahasa asing. akibatnya yang paling fatal tentu saja puisi-puisi indonesia tidak bisa bicara banyak di dunia internasional. sesungguhnya puisi yang bagus tidak ditentukan oleh bahasa apa yang dikenakannya. puisi-puisi dina oktaviani dalam buku ini membuktikan hal itu.”
–m.aan mansyur, editor (poet and librarian)
“to read dina’s poems is like peeling an onion, layer by layer where every layer tastes bitter and often poignant to tell us in the end that everything has gone but memory. one thing that makes dina’s poems important to read is that she is capable of giving very vibrant and powerful words upon daily matters which have withered and become sluggish. dina has invented a language for her poems which speak about ‘domestic events’, just like a piece of light which discovers things that have been locked up in the darkroom of memories.”
“membaca sajak-sajak dina, seperti mengupas lapis demi lapis bawang. dimana setiap lapisnya terasa pahit, dan acap perih untuk pada akhirnya kita diberitahu bahwa semuanya telah tak ada selain kenangan. satu hal yang membuat sajak-sajak dina menjadi penting untuk dibaca, karena dia mampu memberikan bahasa yang sangat hidup dan bertenaga untuk hal sehari-hari yang sudah layu dan lungkrah. dina menemukan bahasa untuk sebagian besar sajak-sajaknya yang berkisah tentang “peristiwa-peristiwa di dalam rumah” itu, seperti seberkas cahaya yang menemukan benda-benda yang semula tersekap dalam ruang gelap kenangan.”
–iswadi pratama (poet and theater director)
“broken heart walking could be the world of dina which is full of bends—a path towards dina. but in this book dina has become anyone of us; dina has succeeded in going far beyond borders, even her gender. in spite of her unexpected and startling style, the sharp bends like creases on paper, dina’s poems still manage to touch us gently. to me this book is the next episode of biografi kehilangan (biography of loss)—her first collection.”
“hati yang patah berjalan bisa jadi adalah dunia dina yang penuh lipatan—sebuah jalan kecil menuju dina. tapi dina dalam buku ini sudah berarti siapa saja; dina telah berhasil meluaskan batas, bahkan jenis kelaminnya. dengan gayanya yang sering mengejutkan, belokan-belokan tajam sebagaimana garis-garis lipatan pada sebuah kertas, puisi-puisi dina masih tetap menyentuh dengan lembut. buku ini bagi saya adalah episode selanjutnya dari biografi kehilangan (buku puisi pertamanya).”
–gunawan maryanto (author and theater director)
“i never want to see dina as a ‘pain lover’; she is not that straightforward. the poems in this book were created by a loneliness addict. loneliness, which modern people regard dissentingly as ‘anguish’, is gracefully exhaled by dina through her poems just like making the traditional drinks she consumes everyday. i capture the nuance of the subject of ‘being alone’ in this book–more as ‘i, myself’ rather than ‘i am lonesome’–as power, as dignity, as a statement of independency.”
“saya tak pernah ingin melihat dina sbg ‘pain lover’, dia tak segampangan itu. puisi-puisi dalam buku ini diciptakan oleh penikmat kesendirian yang akut. kesendirian yang oleh masyarakat modern dikeluhkan sebagai ‘derita’, ditiupkan oleh dina dalam puisi-puisinya seperti ia meracik jamu yang ditenggaknya sehari-hari. saaya menangkap nada dari subyek ’sendiri’ dalam buku ini– lebih kentara sbg “I, my self” ketimbang “I’m lonesome”– sebagai tenaga, sebagai martabat, sebagai pernyataan kedaulatan.”
–naomi srikandi (writer and theater actress)
“dina oktaviani, my spirit is always trembling out of your poems—they are always my faithful friends through a path leading away from the herd.”
“dina oktaviani, ruhku selalu gemetar membaca puisi-puisimu yang setia menemani jalan kecilku menjauhi kawanan.”
–dj p0p (writer and performer)