
JUNE 30, 2011 AT 18.30 THE OPENING OF
an exhibition of photos by dalih sembiring and poems by dina oktaviani
june 30-july 16 2011
at sangam house
jl. pandega siwi 14
yogyakarta
get poetic postcards!
“homage to hometowns” | photos by dalih sembiring
english | growing up is finding an identity, a process influenced by what others think and how they behave. i grew up in four different places: binjai in north sumatra, dili in timor-leste, canberra in australia, and in yogyakarta. this was both good and bad. good, because i got to learn how the different cultures shape the minds of the people, and subsequently be able to be respectful toward each and any. bad, personally, because the repeated adjusting to each environment has made me doubt if i belong anywehere. but then there were the things that needed little learning: the various manifestations of intimacy. based in yogyakarta and having returned to dili and binjai early this year, i have managed to capture with my camera the universal stories of intimacy. as the photos will tell, genuine intimacy needs no learning, it is simply felt — be it in the little gestures of the objects, or in the corners that evoke that multi-faceted miracle. wherever you hail from, it is in this domain we all can feel that we belong. bahasa indonesia | pendewasaan adalah mencari identitas, sebuah proses yang dipengaruhi oleh pemikiran orang lain dan bagaimana mereka bersikap. saya tumbuh di empat kota berbeda: binjai di sumatera utara, dili di timor-leste, canberra di australia, dan di yogyakarta. hal ini bisa baik bisa buruk. baik, karena saya bisa mempelajari bagaimana kebudayaan yang berbeda-beda membentuk kepribadian masyarakatnya, dan akhirnya mampu menghormati perbedaan. buruk secara personal, karena proses penyesuaian diri yang berulang-ulang membuat saya merasa tidak punya tempat yang dapat betul-betul disebut kampung halaman. tapi ada hal-hal yang tidak perlu dipelajari: keintiman dalam berbagai perwujudannya. tinggal di yogyakarta dan sempat kembali ke dili dan binjai awal tahun ini, saya berupaya menangkap lewat kamera kisah-kisah universal keintiman. seperti tampak dalam foto-foto yang dipamerkan, keintiman sejatinya tak perlu dipelajari, cukup dirasakan — bisa dari isyarat-isyarat kecil sikap objek-objeknya, atau pada sudut-sudut yang membangkitkan keajaiban itu. siapapun anda dan dari manapun anda berasal, inilah ranah yang bisa kita bagi bersama.
“untitled memory” | poems by dina oktaviani
english | going home is always fascinating, and intimidating at the same time. those acute roads — are you ready for ghosts at every bend? they are strangers, they are close to your heart. they fly free, they suffocate you. they’re rites of passage to yourself. i try to respond to dalih’s photos — this is quite an experiment i’ve wanted to do since my short story “photograph poet” in 2005. i am not a complete stranger though — i was with dalih on his trip to dili, almost with him to binjai, i often spend quality time with him or his family in yogya, and who knows if i’m always in his dreams. but still, i respond to the photos, to the souls they bear. if i can relate to this intimacy, i believe you can too. bahasa indonesia | kata “pulang” selalu mempesona dan menindas sekaligus. jalan-jalan yang akut itu — apakah kau siap dengan hantu-hantu di setiap tikungan? mereka asing, mereka dekat di hatimu. mereka terbang bebas, mereka membekapmu. mereka ritus menuju dirimu. saya mencoba membalas foto-foto dalih — sebuah percobaan yang saya ingin sekali lakukan sejak cerpen saya “penyair foto” di tahun 2005. saya memang bukan sepenuhnya orang asing — saya bersama dalih dalam perjalanannya kembali ke dili, hampir menyusulnya ke binjai, saya sering menghabiskan waktu dengannya atau keluarganya di yogya, dan siapa tahu saya selalu di dalam mimpi-mimpinya. tapi foto-foto dalihlah yang saya balas – jiwa-jiwa yang dilahirkannya. jika saya bisa menjadi bagian intimacy, saya percaya anda juga bisa.