(click here for the english version)
malam lebaran
aku melipat sprei-sprei yang lusuh
dan kau tak menyukai perayaan jenis ini
kau tak lagi terhibur dengan baju-baju kotor di gantungan
atau dongeng tentang tuhan dalam roman-roman asia
semua yang tiba-tiba tampak begitu sederhana dan pribadi buatmu
tapi aku tak punya kendara menuju athena
dan telah jauh ketinggalan mode percakapan
kapal-kapal sudah lebih dulu tenggelam di kolam tetangga
buku-buku panduan pergaulan tak terbeli
apakah kau ingin aku memasukkan kata ‘radio’, ‘cogito’
atau ‘agorafobia’ ke dalam kamar kita yang cekung seperti kuburan?
anak-anak lebih setuju dengan bunga-bunga dan berisik tokek di atap rumah
mereka bisa tidur di rahimku jika kantung matamu
tak cukup hangat untuk penderita malaria
kami, dengan segenap kerumunan yang riang
menyediakan ruang istirah yang tak pernah ditawarkan
adegan film aksi, lebih-lebih isme eksistensi
“pulanglah, papa
hujan deras, genting bocor dan kami tak bisa menangkap petir”
berhentilah menawarkan kami kepada toko-toko buku
atau menggadaikan rumah untuk sejumlah perjudian pasca hastina
kita butuh uang untuk bayar tukang dan masak rendang
yogyakarta, 2003
Pingback: AGORAPHOBIA | dina oktaviani
Pingback: AGORAPHOBIA | la javanaise