AGORAPHOBIA

(klik di sini untuk versi bahasa indonesia)

ied eve
i fold the worn-out sheets
and you don’t like this kind of celebration

you are no longer entertained
by dirty clothes on the hanger
or tales about gods in asian romances
all the things that suddenly seem too simple and personal to you

but i don’t have a vehicle to take me to athens
and have been left far behind the conversation trends
the ships have already sunk in the neighbour’s ponds
books on how to make friends have become unaffordable

would you like me to put the words ‘radio’, ‘cogito’
or ‘agoraphobia’ into our sunken room?
the children prefer flowers and the sound of geckos on the roof
they can sleep in my womb if your eye bags
aren’t warm enough for malaria sufferers

we, with a jolly crowd
provide a sanctuary that’s never been offered by
action movies, let alone the ism of existence

“come home, papa
the rain is harsh, the roof is leaking and we cannot catch the thunder”

stop trying to sell us to bookshops
or pawning the house over some post-hastina gambling
we need money to pay a roofer and to cook rendang

yogyakarta, 2003

Advertisements

AGORAFOBIA

(click here for the english version)

malam lebaran
aku melipat sprei-sprei yang lusuh
dan kau tak menyukai perayaan jenis ini

kau tak lagi terhibur dengan baju-baju kotor di gantungan
atau dongeng tentang tuhan dalam roman-roman asia
semua yang tiba-tiba tampak begitu sederhana dan pribadi buatmu

tapi aku tak punya kendara menuju athena
dan telah jauh ketinggalan mode percakapan
kapal-kapal sudah lebih dulu tenggelam di kolam tetangga
buku-buku panduan pergaulan tak terbeli

apakah kau ingin aku memasukkan kata ‘radio’, ‘cogito’
atau ‘agorafobia’ ke dalam kamar kita yang cekung seperti kuburan?
anak-anak lebih setuju dengan bunga-bunga dan berisik tokek di atap rumah
mereka bisa tidur di rahimku jika kantung matamu
tak cukup hangat untuk penderita malaria

kami, dengan segenap kerumunan yang riang
menyediakan ruang istirah yang tak pernah ditawarkan
adegan film aksi, lebih-lebih isme eksistensi

“pulanglah, papa
hujan deras, genting bocor dan kami tak bisa menangkap petir”

berhentilah menawarkan kami kepada toko-toko buku
atau menggadaikan rumah untuk sejumlah perjudian pasca hastina
kita butuh uang untuk bayar tukang dan masak rendang

yogyakarta, 2003

TANJUNGKARANG GHOSTS

(klik di sini untuk versi bahasa indonesia)

1

what is it now that makes you tremble
night is just something that often passes by
what is it that you don’t know about pain –
spiteful lovers, friends that vanish in space

you’re the one who never finishes anything
because everything is torn in your head

what is it that makes you irresolute
in the presence of the past
regret is a strong beast
with its claws walking under the skin
and makes you hurt

now, suffer the scratch
suffer the vague scratch in your blood
hatred for father and jealousy for mother
strange sensations amongst your brothers and sisters
houses that burn the despair

the lamps have faded, my love
let me end the night
by writing down these lines
and sail your body into dreams.

2
how am i going to miss you after this
living amongst ghosts and hometown
there’s nothing i could leave behind
; the light you turn off
the sound of your stomach in the morning

or my own despair
when i leave home secretly
and realise there’s no one after me
but the breeze, beside the rain spots
that last in my head for quite some time

i always wanted to return from that junction
and to cry to my heart’s content
i want to hit you hard
because patience explains nothing

now that i might love another
would you love me again
love me in between your awkwardness
and love me in between the shadows
that you might not be able to bring to life anymore.

3
the faint death close to my neck
–who knows you?
your eyes are always shut
the books inside your body, full of notes
that i could never read

names, lies
i just don’t want to hurt anybody
not even myself, with your sadness, your fear
and my fear of sadness

i’ve quit praying
and i can’t possess you suddenly:
drizzle in the morning; your broken-heart
how your possessions will let you down

i count on the cooled-heart and the weather
i survive by sleeping and loving what’s vague
and i can’t lose you suddenly
your slow love; the verses
that make me recollect every god.

4
how much can i take
from tanjungkarang drizzle
which building talks about myself
which road leads to the house of the past

i can’t find my grave in every alleyway
my mind becomes a ghost, can’t return anywhere

the air is my holy son
that i inhale and exhale, inhale and exhale
from the distance he’s now carrying his mother’s sins on his shoulders
polluted by grief and bringing me back to life again
to be dying again

if only i were a son
if only i were just beloved

see, how much that has been taken away from me
i can’t even possess my own tears
that fall swiftly and get the whole city drowned.

5
i’m grieving for the dry station
and supposedly nobody cares
a piece of used ticket; full of my scrawls

once i loved you everyday
with a green body and a bruised mind
admiring the small crimes
: original love signs

but where do i go today where do i go
a bag of the same old clothes and books

in illness i have changed every label and title
so that everyone gets wary, so that you get suspicious of me
so no one would believe:
within my heart nothing has changed

the last dusk enters the station
across the old church you appear
bringing the same yesterday longings
holding my name aloft

your lips open
i rush to you without shame
holding you i hold the air.

6
i heard your voice once
long before we met and never saw each other again
distance has frozen the spaces; my heart’s filled
with fake questions about the world

tonight the echo of the voice
paralyzes the negative thoughts about fallen leaves
making me limp and long for home

where am i
apart from vanishing in unsuccessful fiction
about families–where are you?

how could someone understand the sadness
that one is not familiar with?

everyone is a messiah for oneself:
there’s no way out.

7
you wake me up early in the morning
with your real and definite hands
–no longer i have that habit

come under my blanket when the dawn’s breaking
and be my dream while i’m asleep
the worse the better: i’ll be living with no surprises

“mama is crazy now; better not to see her again
and besides she’s beautiful and hurt: she’s perfect
i’m walking out–that’s a habit”

so i take a walk in a winter outfit
looking for some flaws to note down
it’s raining drizzles, i can only remember numbers
nobody’s named number

only the drizzles, i walk like a calendar
it is neither ex-lovers nor old friends
the whole city has become remnants.

lampung – yogyakarta, 2008

HANTU-HANTU TANJUNGKARANG

(click here for the english version)

1

apa yang membuatmu gemetar kini
malam hanya sesuatu yang kerap lewat
apa yang belum kauketahui tentang perihnya
kekasih yang dengki, teman yang pudar di angkasa

kaulah seseorang yang tak pernah menyelesaikan sesuatu
karena segala sesuatu terbelah di kepalamu

apa yang membuatmu ragu-ragu di hadapan masa lalu
penyesalan adalah binatang yang tangguh
dengan cakarnya berjalan tegap di bawah kulit
dan membuatmu terluka

sekarang, rasakan irisannya
rasakan irisannya yang samar pada darahmu
kebencian pada ayah dan kecemburuan pada ibu
rasa asing di antara saudara-saudaramu
rumah-rumah yang menyalakan keputusasaan

lampu-lampu telah padam, kekasihku
biarkan aku menyelesaikan malam
dengan menuliskan baris-baris ini
dan mengalirkan mayatmu ke dalam mimpi.

2
bagaimana aku merindukanmu setelah ini
hidup di tengah hantu dan kampung halaman
tak ada yang aku sanggup tinggalkan:
lampu yang kamu padamkan
suara perutmu di pagi hari

atau kekecewaanku sendiri
ketika meninggalkan rumah diam-diam
dan tahu: tak ada yang mengejarku
selain angin, selain bercak-bercak hujan
yang bertahan cukup lama di kepalaku

aku selalu ingin kembali dari simpang jalan itu
dan menangis sepuas-puasnya
aku ingin memukuli tubuhmu keras-keras
sebab kesabaran tak pernah menerangkan apa-apa

kini ketika aku mungkin mencintai yang lain
akankah kamu mencintaiku lagi
mencintaiku di antara kecanggunganmu
dan mencintaiku di antara bayang-bayang
yang mungkin tak bisa kamu wujudkan lagi.

3
maut yang tipis di dekat leherku
siapa yang sungguh mengenalmu
kamu selalu terpejam
sejumlah buku di dalam tubuhmu, penuh catatan
tak pernah bisa kubaca

nama-nama, dusta-dusta
aku hanya tidak ingin menyakiti siapa pun
tidak juga diriku, dengan kesedihanmu, ketakutanmu
dan ketakutanku pada kesedihan

aku telah berhenti berdoa
dan aku tak bisa memilikimu tiba-tiba:
gerimis pagi; hatimu yang terluka
betapa yang kaumiliki akan melemahkanmu

aku mengandalkan cuaca dan hati yang didinginkan
aku bertahan dengan tidur dan mencintai yang kabur
dan aku tak bisa kehilanganmu tiba-tiba:
cintamu yang pelahan; ayat-ayat
yang membuatku mengenang semua tuhan.

4
berapa banyak yang bisa kuambil
dari gerimis tanjungkarang
bangunan mana yang berbicara tentang diriku
jalan mana menuju rumah masa lalu

aku tak menemukan kuburku di setiap gang
pikiranku menjadi hantu, tak bisa kembali ke mana-mana

udara adalah anakku yang kudus
yang kuhirup dan lepaskan, kuhirup dan lepaskan
ia kini memikul dosa-dosa ibunya dari kejauhan
tercemar oleh duka dan membuatku kembali hidup
kembali sekarat

seandainya aku seorang putra
seandainya aku hanya orang yang dicintai

lihatlah, betapa banyak yang diambil dari diriku
aku bahkan tak bisa memiliki airmataku sendiri
yang meluncur deras dan menenggelamkan seluruh kota

5
aku menangisi stasiun yang kering
dan seperti seharusnya tak seorang pun peduli
selembar karcis bekas; penuh kutulisi

aku pernah mencintaimu setiap hari
dengan tubuh hijau dan pikir yang memar
mengagumi kejahatan-kejahatan kecil
: tanda cinta yang orisinil

tapi hari ini mau ke mana aku mau ke mana
sekopor pakaian dan buku yang itu-itu juga―

dalam sakit aku telah mengganti semua merk dan judulnya
agar semua waspada, agar kamu curiga
agar tak seorang percaya:
dalam hatiku tak satu bisa berubah

senja kesekian memasuki stasiun
di seberang gereja lama kamu muncul
dengan rindu yang asing seperti kemarin
; mengacung namaku tinggi-tinggi

bibirmu terbuka
aku menghambur tanpa malu:
memelukmu aku memeluk udara.

6
aku mendengar suaramu sekali
jauh sebelum kita bertemu dan tak pernah bertemu lagi
ruang-ruang dibekukan oleh jarak; hatiku dipenuhi
pertanyaan-pertanyaan palsu tentang dunia

malam ini gema dari suara itu
melumpuhkan pikiran buruk tentang daun-daun gugur
membuatku pincang dan merindukan rumah

di manakah diriku
selain memudar dalam fiksi-fiksi yang gagal
tentang keluarga; di manakah kamu?

bagaimana seseorang dapat memahami kesedihan
yang tak dikenalnya; kehilangan yang sederhana?

setiap orang adalah messiah bagi dirinya sendiri:
tak ada jalan keluar.

7
kamu membangunkanku pagi-pagi
dengan tangan yang nyata dan pasti―
aku tak punya kebiasaan itu lagi

masuklah ke dalam selimutku menjelang fajar
dan jadilah mimpi ketika aku lelap
makin buruk makin baik: aku akan hidup tanpa kejutan

“mama sudah gila; lebih baik tak bertemu lagi
lagipula dia cantik dan terluka: dia sempurna
aku akan keluar: itu sebuah kebiasaan”

aku berjalan dengan pakaian lengkap musim dingin
mencari-cari cacat untuk kucatat
hujan hanya rintik-rintik, aku hanya ingat angka-angka
tak seorang pun bernama angka

hanya hujan rintik-rintik, aku berjalan seperti kalender
tak ada mantan pacar atau kawan lama:
seluruh kota telah menjadi barang bekas.

lampung – yogyakarta, 2008